5 Level Evaluasi Pelatihan K3 Model Kirkpatrick & Phillips

Agar pekerja dapat bekerja dengan sehat dan selamat, pengusaha harus memastikan bahwa pekerja diberikan pelatihan K3 untuk mencapai pemahaman/kompetensi sesuai yang dipersyaratkan. Program pelatihan K3 yang efektif memerlukan evaluasi dan perhatian yang berkelanjutan.

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana cara mengevaluasi program pelatihan K3?

Nah, untuk mengevaluasi pelatihan K3, kita dapat menggunakan model Kirkpatrick dan Phillips.

Evaluasi Pelatihan dengan Model Kirkpatrick & Phillips

Model evaluasi pelatihan tersebut diambil dari nama Donald Kirkpatrick seorang profesor di Universitas Wisconsin, sekaligus mantan presiden dari American Society for Training and Development (ASTD) dan Dr. Jack Phillips seorang pakar akuntabilitas, pengukuran, dan evaluasi yang terkenal di dunia.

Pada tahun 1954, Donald Kirkpatrick mengembangkan model evaluasi empat level dan kemudian pada tahun 1997, Dr. Phillips menambahkan level kelima yang membahas dampak pelatihan terhadap profitabilitas.

5 Level Evaluasi Pelatihan Model Kirkpatrick/Phillips
Evaluasi Pelatihan Model Kirkpatrick/Phillips

Menurut model 5 level ini, metode untuk mengevaluasi harus selalu mencakup pengukuran reaksi peserta dan mengukur secara berurutan melalui pembelajaran, penerapan atau perilaku, hasil, dan pengembalian investasi (ROI atau Return on Investment).

5 Level / Tahap Evaluasi Pelatihan K3 dengan Model Kirkpatrick & Phillips

Sekarang mari kita lihat penjelasan di masing-masing level evaluasi pelatihan ini yah.

Evaluasi Pelatihan K3 Level 1: Reaksi

did the learner like the safety training?

Evaluasi Level Satu sangat penting dan mengukur kinerja pelatihan dengan mengumpulkan data dari peserta tentang kualitas konten dan presentasi pelatihan.

Di bawah ini adalah beberapa pertanyaan yang ingin dijawab dari level 1.

  • Apakah peserta menikmati pelatihan yang diberikan?
  • Apakah menurut mereka pelatihan yang diberikan dapat diterapkan dan bermanfaat?
  • Apakah pelatihan yang dilakukan menerapkan manajemen waktu yang baik?
  • Apakah mereka menyukai fasilitas, pengaturan ruangan, dll…?
Ilustrasi peserta training yang antusias

Level pengukuran ini biasanya cepat dan sangat mudah dilakukan. Tidak butuh waktu lama bagi peserta untuk memberikan umpan balik tentang pelatihan. Tidak mahal untuk mengumpulkan dan menganalisis data.

Di bawah ini adalah beberapa metode yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi Level Satu.

  • Lengkapi “happy sheet”
  • Lengkapi formulir umpan balik berdasarkan reaksi pribadi (bahasa tubuh) peserta terhadap pengalaman pelatihan
  • Berikan reaksi verbal kepada instruktur
  • Menyelesaikan survei atau kuesioner pasca pelatihan
  • Selesaikan evaluasi atau penilaian online oleh peserta
  • Memberikan laporan lisan atau tertulis kepada manajer di tempat kerja

Evaluasi pelatihan dimulai dengan ‘happy sheets’. Kuesioner diisi oleh peserta di akhir pelatihan. Selanjutnya, jawaban-jawaban yang diperoleh digunakan untuk untuk peningkatan pelatihan.

Download contoh form evaluasi pelatihan K3 level 1!

Evaluasi Pelatihan K3 Level 2: Pembelajaran

did the training increase the learner’s safety knowledge, skills, and abilities (KSAs)?

Evaluasi Level Dua mengukur apa yang diketahui dan dapat dilakukan peserta setelah pelatihan. Sebagian besar pelatihan K3 akan memerlukan evaluasi Level Dua. Evaluasi di tahap ini juga dapat mengukur peningkatan pengetahuan – sebelum dan sesudah.

Apa yang peserta ketahui atau dapat lakukan dapat diukur sebelum, saat dan di akhir pelatihan selama hal tersebut masih dalam lingkungan pelatihan (learning environment). Perlu dicatat bahwa, lingkungan pelatihan seharusnya tidak membuat peserta terpapar bahaya di tempat kerja yang sebenarnya.

Di bawah ini adalah pertanyaan yang perlu diajukan pada tahap evaluasi level 2.

  • Apakah peserta mempelajari hal yang sesuai dengan tujuan diselenggarakannya pelatihan?
  • Apakah peserta merasakan pengalaman yang sesuai dengan tujuan diselenggarakannya pelatihan?
  • Sejauh mana peningkatan pengetahuan atau keterampilan peserta setelah pelatihan?

Metode untuk mengevaluasi pengetahuan dan keterampilan pada level ini meliputi:

  • Ujian pra/pasca pelatihan tertulis atau lisan untuk mengukur pengetahuan; dan
  • Wawancara atau observasi kinerja juga dapat digunakan untuk mengukur keterampilan.
Evaluasi pelatihan level 2
Pra dan Post Test dilakukan untuk mengukur pemahaman peserta training

On Job Training (OJT) adalah strategi pelatihan yang sangat efektif untuk menguji pengetahuan dan keterampilan.

Terlepas dari strategi pelatihan yang digunakan, pastikan langkah-langkah evaluasi dapat diandalkan dan valid. Dapat diandalkan jika hasilnya konsisten. Valid jika hasilnya mencerminkan pengetahuan dan keterampilan yang ditentukan dalam tujuan pembelajaran.

Evaluasi pada level ini cocok untuk sertifikasi pekerja sebagai “initially qualified“. Namun, evaluasi Level Tiga akan diperlukan untuk mengesahkan peserta untuk dikatakan “fully qualified“.

Evaluasi Pelatihan K3 Level 3: Penerapan atau Perilaku

did the learner successfully apply the KSAs to the job?

Evaluasi level Tiga bertujuan untuk mengukur keberhasilan yang ditunjukkan peserta dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang baru mereka peroleh untuk pekerjaan mereka. Berikut adalah beberapa pertanyaan yang ingin dijawab oleh program pelatihan pada tingkat evaluasi ini.

  • Apakah peserta menggunakan pembelajaran mereka kembali pada pekerjaan?
  • Apakah ada peningkatan yang nyata dan terukur dalam kinerja peserta dalam pekerjaan mereka?
  • Apakah perubahan perilaku dan tingkat pengetahuan baru peserta berkelanjutan?
  • Apakah peserta dapat mentransfer apa yang mereka pelajari kepada rekan kerjanya?
Menggunakan masker
Menggunakan masker di tempat kerja setelah diberi pelatihan

Pengamatan kinerja dari waktu ke waktu adalah teknik utama yang digunakan untuk tingkat evaluasi ini. Evaluasi berlangsung pada beberapa waktu (hari, minggu, bulan) setelah peserta pelatihan meninggalkan lingkungan pelatihan. Biasanya, seorang trainer atau supervisor akan mengamati pekerja di tempat kerja dan menilai kinerjanya terhadap tujuan pembelajaran. Evaluasi pada tingkat ini dapat digunakan untuk memverifikasi bahwa seorang pekerja “ fully qualified“.

Baca juga: Trend Manajemen K3 di Tahun 2021

Di bawah ini adalah alasan penting untuk melakukan evaluasi Level 3.

  • Mengukur pengetahuan jangka panjang: Ketika Anda meminta pekerja untuk menjelaskan prosedur setelah pelatihan, Anda dapat menentukan seberapa baik pekerja tersebut telah mempertahankan pengetahuan yang diperlukan.
  • Mengukur keterampilan setelah pelatihan: Anda dapat menentukan sejauh mana pekerja telah mempertahankan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan prosedur.
  • Memvalidasi pelatihan keselamatan: Kinerja yang sukses di lingkungan kerja merupakan indikator kuat bahwa pelatihan keselamatan sudah memadai.
  • Memvalidasi budaya keselamatan: Kinerja yang sukses di tempat kerja umumnya menunjukkan sistem manajemen keselamatan dan budaya mendukung program pelatihan keselamatan.
  • Efisien: Para supervisor dapat melakukan evaluasi level ini selama pengawasan normal sehari-hari. Tidak diperlukan prosedur khusus.

Informasi dari setiap tingkat sebelumnya berfungsi sebagai dasar untuk evaluasi tingkat berikutnya. Penting juga untuk dipahami bahwa pengukuran perubahan perilaku pekerja biasanya membutuhkan kerja sama dan keterampilan manajer lini.

Download form evaluasi pelatihan K3 level 3!

Evaluasi Pelatihan K3 Level 4: Hasil

did the safety training have a positive impact on business key performance indicators (KPIs)?

Evaluasi Tingkat Empat mewakili perubahan fokus. Evaluasi ini ingin mengetahui sejauh mana pelatihan berdampak atau secara efektif berkontribusi pada kesuksesan perusahaan secara keseluruhan. Kinerja pekerja yang telah mendapatkan pelatihan biasanya lebih baik dibandingkan dengan kinerja kelompok kontrol yang belum pernah mengikuti pelatihan. Baik leading maupun lagging indikator diukur dalam evaluasi Level Empat.

Pelatihan K3 berdampak pada Kinerja
Ilustrasi pelatihan K3 yang berdampak pada peningkatan kinerja

Leading Indicator

  • Sikap: Apa yang diungkapkan dalam survei dan wawancara tentang pemikiran, pendapat, dan sikap pekerja?
  • Kondisi: Berapa jumlah total dan rata-rata kondisi (temuan) berbahaya yang ditemukan selama inspeksi keselamatan?
  • Perilaku: Berapa nearmiss yang dilaporkan?
  • Aktivitas: Berapa banyak pelatihan keselamatan yang dilakukan? Seberapa sering pertemuan keselamatan diadakan?

Lagging Indicator

  • Tingkat cedera: Apakah tingkat cedera naik atau turun setelah pelatihan?
  • Biaya kecelakaan: Apa dampak pelatihan terhadap jumlah rata-rata dan total yang dikeluarkan untuk biaya pengobatan?
  • Biaya kompensasi pekerja: Apakah tingkat kompensasi pekerja meningkat setelah pelatihan?
  • Pelanggaran: Apa perubahan dari hasil inspeksi?

Penting untuk diingat bahwa perlu mengukur variabel-variabel ini sebelum dan sesudah pelatihan dilakukan.

Baca juga: Cara Belajar + Dapat Sertifikat Gratis SNI ISO 45001!

Evaluasi level ini diwajibkan dalam standar ANSI/ASSE Z490.1-2016, namun tidak diwajibkan dalam standar OSHA.

Sangat penting untuk memahami perbedaan antara evaluasi Tingkat Dua/Tiga dan evaluasi Tingkat Empat. Dalam model evaluasi pelatihan Tingkat Empat kita tidak lagi mengukur pembelajaran atau proses pelatihan, melainkan dampak pelatihan keselamatan pada organisasi.

Evaluasi Pelatihan K3 Level 5: ROI (Return on Investment)

did the company show a positive return on the training investment (ROI) expressed as a cost/benefit ratio?

4 level evaluasi pelatihan dari Donald Kirkpatrick dilengkapi oleh Dr. Jack Phillips dengan menambahkan ROI (Return on Investment) sebagai level ke 5. Dia percaya bahwa dengan melakukan evaluasi untuk menentukan Return on Investment (ROI), perusahaan dapat menemukan manfaat finansial dari program pelatihan dibandingkan dengan biaya pelaksanaan pelatihan.

Dengan demikian, model evaluasi pelatihan level kelima dikembangkan dengan mengumpulkan hasil level Empat, mengubah data menjadi nilai finansial, dan membandingkannya dengan biaya program pelatihan untuk mewakili laba atas investasi pelatihan K3.

ROI pelatihan K3
Rumus ROI Pelatihan K3

Misalnya, jika benefit (penghematan) karena biaya kecelakaan dan pembayaran kompensasi pekerja yang lebih sedikit untuk tahun lalu adalah $400.000 dan biaya pelaksanaan pelatihan adalah $40.000, ROI pelatihan (%) untuk tahun lalu adalah?

  • Keuntungan pelatihan K3 (training benefits) = $400.000
  • Biaya pelatihan K3 (training costs) = $40.000

ROI Training K3 (%) = ($400.000-$40.000)/$40.000) x 100 = 900%.

Artinya adalah tahun lalu perusahaan menghemat SEMBILAN KALI biaya pelatihan atau setiap $1 yang dihabiskan untuk program pelatihan K3 akan mendapatkan pengembalian sebesar $9 sebagai keuntungan.

Penutup

Demikianlah 5 level / tahap evaluasi pelatihan K3 dengan model Kirkpatrick & Phillips yang dapat Anda gunakan untuk mengevaluasi efektivitas program pelatihan K3 di tempat kerja Anda.

Semoga bermanfaat ya!

Referensi

BSN. 2019. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Berbasis SNI ISO
45001:2018.

Bailey, Allan. The Kirkpatrick/Phillips Model for Evaluating Human Resource Development and Training Diakses di https://www.buscouncil.ca/busgurus/media/pdf/the-kirkpatrick-phillips-evaluation-model-en.pdf

OSHAcademy – Introduction to OSH Training. Diakses di https://www.oshatrain.org/

Sharing is Caring

Andi Balladho

Andi Balladho Aspat Colle is certified Occupational Safety & Health (OSH) professional in Indonesia. As OSH Enthusiast, he loves to learn and share an articles about OSH.

You may also like...

2 Responses

  1. Iwalji says:

    Informasi yg sangat inspiratif & sangat berguna didunia kerja terutama dlm hal keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *