Kepemimpinan Menurut Ahli K3 Kelas Dunia

Pada tanggal 24 Juni 2020 lalu, Risk and Safety Profesional, Grup Komunitas K3 di Linkedin, membuat suatu pertemuan tertutup (mengundang pengurus dan beberapa membernya) melalui apllikasi zoom untuk membicarakan tentang Leadership (kepemimpinan). Tidak tanggung-tanggung, dalam acara yang dimulai pukul 1 pagi (waktu Indonesia bagian Barat) ini di hadiri oleh 3 orang Profesor (pakar/ahli K3 kelas dunia) yang namanya tentu sudah tidak asing di telinga kita sebagai orang yang menggeluti bidang K3. Ketiga pakar tersebut antara lain Prof. Tim Marsh, Prof. Dominic Cooper dan Prof. Scott Geller.

Senang dapat bergabung, acara tersebut sangat berkesan dan santai. Namun di tengah-tengah acara signal memburuk + rasa kantuk menghantui membuat saya tidak dapat mengikuti keseluruhan pembahasan.

Nah, kabar baiknya per tanggal 30 Juni 2020 kemarin, Sonni Gopal (founder website redrisks.com) meng-upload rekaman perbincangan tesebut sehingga saya-pun dapat menyaksikan kelanjutannya.

Oke, mari kita ulas beberapa poin-poin penting dari pembahasan “kepemimpinan K3” dalam acara tersebut!

Apa itu kepemimpinan dan siapa sosok yang dianggapnya memiliki kepemimpinan yang baik?

Ketika para panelis ditanya, tentang apa itu kepemimpinan dan siapa sosok yang dianggapnya memiliki kepemimpinan yang baik? Dominic Cooper dengan lugas menjawab. Julius Caesar! Dimana banyak masalah dalam hidupnya dan berhasil mengatasinya. Dia juga seorang negarawan hebat, insinyur hebat. Julius Caesar juga dekat dengan anak buahnya, memiliki kemampuan untuk memahami masalah, mendapatkan solusi, dan tahu bagaimana cara mengaturnya. Selain itu, Copper mengatakan sosok lain yang dianggap sebagai orang dengan kepemimpinan baik lainnya adalah Genghis Khan (salah satu pemimpin terbaik dalam sejarah) yang berasal dari latar belakang Militer (serupa dengan latar belakang Dominic Cooper). Pelajaran yang dapat di petik dalam kisah Genghis Khan adalah kedisiplinannya dalam mempersiapkan sesuatu, seperti kata pepatah “keberuntungan yang baik adalah ketika persiapan bertemu kesempatan”.

Tim Marsh, salah satu psikolog industri terkemuka di eropa barat dan juga di kenal sebagai orang yang memiliki otoritas di bidang safety culture, behavioral safety dan leadership, menambahkan ada sebuah buku yang menarik tentang kepemimpinan yang di tulis oleh Sam Walker berjudul The Captain Class (ada yang punya ebooknya, boleh dong di kirim hihihi). Intinya adalah seorang pemimpin bekerja keras namun tetap rendah hati (humble), menempatkan anggotanya terlebih dahulu dengan memahami apa yang terjadi, yang pada akhirnya mengetahui apa yang harus ia lakukan.

Baca juga: Ini Cara Belajar SNI ISO 45001 Gratis di BSN!

Disisi lain, Scott Geller, pioneer BBS (Behavior Based Safety) yang karyanya banyak dirujuk oleh mahasiswa K3 ini, menambahkan bahwa ada perbedaan antara manajemen dan pemimpin. Geller, menjelaskan bahwa manajer membuat orang untuk bertanggung jawab. Sedangkan pemimpin membuat orang terinspirasi untuk mendapatkan self-motivation/self-accountability. Pemimpin harus jujur (honest) mengakui kesalahan yang telah dibuatnya, meminta umpan balik (feedback), dan pemimpin mempromosikan self-accountability.

Semua orang punya potensi untuk menjadi pemimpin yang baik

Lebih lanjut Geller mengemukakan, semua orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin. Berdasarkan teori nurture dan nature maka kepemimpinan tidaklah muncul tiba-tiba (secara alami sejak lahir) melainkan kepemimpinan ada karena di pupuk, dibentuk dan juga di pelajari! Sosok pemimpin menurutnya adalah semua orang yang mampu memotivasi seseorang, sehingga seseorang punya (self-motivation/self-accontability). Seperti pembimbing tesisnya, Geller mengakui bahwa pembimbing tesisnya adalah salah seorang yang mampu membuatnya memiliki motivasi diri (sel-motivation) hingga menjadikannya seperti sekarang ini.

Pada dasarnya tidak ada gaya kepemimpinan (satu jenis) yang cocok untuk sesorang melainkan gaya-gaya kepemimpinan K3 haruslah didasarkan pada situasi dan orang yang dihadapi.

Cooper menjelaskan bahwa ia telah melakukan meta-analisis pada 328 studi jenis gaya kepemimpinan K3 yang banyak diterapkan. Transactional dan Transformational, kedua gaya kepemimpinan ini akan sangat baik dipadukan dengan gaya Servant. Gaya servant/pelayan berarti menegaskan apa yang timnya butuhkan dan apa yang dapat si leader berikan untuk membuat pekerjaan berjalan dengan benar (creates supportive environment). Dalam artian gaya kepemimpinan apapun haruslah ditopang dengan cara seorang pemimpin melayani, mendorong dan memotivasi orang-orang disekitarnya.

Sumber: Cooper, 2015. Effective Safety Leadership: Understanding Types & Styles That Improve Safety Performance

Di pertegas oleh Geller, bahwa seoang leader harus memahami diposisi mana sumber daya manusianya berada. Dengan kata lain, juga menjadi penting seorang leader memahami apa yang diperlukan oleh seseorang. Hal ini didasari oleh 4 gaya kepemimpinan situasional yang dibuat oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard. Model/gaya kepemimpinan ini banyak diulas di buku-buku tentang perilaku organisasi dan juga kepemimpinan. Kita juga dapat melihat karya Paul Harsey dalam bukunya yang berjudul ‘Leadership and the one minute manager’.

Stop…. tarik nafas! kembali fokus pada bahasan gaya kepemimpinan tersebut. Eh jangan lupa hembuskan nafasnya! Hihihi

Nah, untuk memudahkan pemahaman, mari kita liat gambar dibawah ini:

Mencocokkan gaya kepemimpinan sesuai dengan tingkat perkembangan

Misalnya, ada pekerja baru masuk di tempat kerja (freshgraduate), mereka termotivasi untuk melakukan pekerjaan dengan baik, namun mereka membutuhkan instruksi/pengarahan (directing, kuadran S1). Ketika seseorang tahu apa yang harus dilakukannya tetapi mereka merasa bosan, tidak termotivasi (demotivasi) maka sebagai seorang pemimpin, yang harus dilakukan adalah memberikan dukungan/motivasi. Dalam hal ini tidak harus pemimpin tim, mereka kadang kala membutuhkan rekan kerjanya (supporting, kuadran S3). Kemudian, ketika mereka membutuhkan keduanya ‘arahan dan dukungan’, maka ini dinamakan (coaching, kuadran 2). Bagaimana ketika seseorang yang sudah termotivasi dan tahu cara melakukan sesuatu dengan baik, apa yang mereka butuhkan? Dalam hal ini, sebagai seorang leader, maka yang harus di lakukan adalah mendelegasikan tugas (delagating, kuadran 4).

Kaitan antara D (develop) dan S (style)

Dalam sesi ini, Marsh memperkuat pendapat dari Geller, dimana pemimpin butuh untuk lebih fleksibel dan detail dengan memperhatikan landasan fundamental yaitu otentik dengan integritas, adil, transparan.

Kepemimpinan mempromosikan interpersonal trust (kepercayaan antar pribadi)

Bagaimana pun juga, kepemimpinan tidak lepas dari yang namanya komunikasi, bagaimana seseorang mengarahkan pengikutnya, mendelegasikan tugas dsb. Namun, ada hal yang menarik dalam sebuah komunikasi, komunikasi antara pemimpin dan pengikut haruslah konsisten (terus menerus), karena ini dapat membangun interpersonal trust. Sebagai contoh, kita dapat mempercayai kemampuan seseorang untuk melakukan tugasnya. Namun, di sisi lain kita belum tentu mempercayai niat mereka untuk melakukan pekerjaan. Oleh karena itu, komunikasi yang konsisten haruslah dibangun untuk mendapatkan kepercayaan satu sama lain (interpersonal trust).

Safety adalah unsur yang melekat dalam kepemimpinan, tidak berdiri sendiri!

Pembicaraan terus berlanjut, dimana Cooper mengungkapkan sangat banyak contoh dalam insiden keselamatan proses yang berujung disaster. Misalnya saja kasus Piper Alpha, para pemimpin sama sekali tidak mengetahui arti penting dari sebuah keselamatan. Yang berarti ketika berbicara tentang kepemimpinan maka safety bukanlah sebuah sub kategori dari leadership (kepemimpinan) -> Safety leadership (kepemimpinan K3), melainkan safety adalah unsur yang melekat (inheren) dalam sebuah kepemimpinan. Jika tidak baik aspek safety-nya maka otomatis tidak baik juga kepemimpinannya. Menjadi pemimpin juga berarti menjadi pemimpin dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Sebenarnya masih banyak hal-hal yang dapat dibahas dalam tulisan kali ini. Di akhir sesi, pembawa Acara membuat ringkasan bahwa apa saja unsur-unsur dari kepemimpinan berdasarkan hasil pembicaraan panelis dan peserta.

  • Kerendahan hati
  • Integritas
  • Empati
  • Mendukung
  • Kepedulian
  • Kepercayaan
  • Kejujuran
  • Konsesus
  • Menyatukan

Senang rasanya dapat membuat tulisan ini, besar harapan dengan adanya prespektif-perspektif dari para pakar diatas dapat membuat kita, khususnya saya pribadi untuk kembali menilai diri, sudah sejauh mana menjadi sosok pemimpin selama ini?

Oh yaaa, jika ingin menonton langsung record pertemuan yang telah diulas diatas, silahkan KLIK LINK BERIKUT

Semoga pembahasan safety leadership (kepemimpinan K3) ini bermanfaat yaa!

Referensi:

Blanchard, Ken., dkk. 2013. Leadership And The One Minute Manager. Epub edition

Blanchard, Ken., dkk. 2007. Leading at Higher Level. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

Cooper, Dominic. 2015. Effective Safety Leadership: Understanding Types & Styles That Improve Safety Performance. Behavioural-Safety. www.behavioural-safety.com/articles/effective_leadership_cooper_0215.pdf. Diakses tanggal 01 Juli 2020

Sharing is Caring

Andi Balladho

Andi Balladho Aspat Colle is certified Occupational Safety & Health (OSH) professional in Indonesia. As OSH Enthusiast, he loves to learn and share an articles about OSH.

2 Responses

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *