Pertanyaan yang Memberdayakan Diri

“Nobody can motivate himself in a positive direction by continually using negative words.”

(John C. Maxwell)

Pernah ga sih punya kawan datang curhat ke kita tentang persoalan hidupnya. Disaat itu pula kita mendengarkan dengan seksama dan diakhir sesi curhatannya kita memberikan saran. Memberikan pernyataan “barangkali untuk persoalanmu, sebaiknya kamu begini bla bla blaa …..”.

Dalam hal diatas, seberapa sering kita mendapat response yang kurang lebih seperti ini “hmmmm … saya juga paham kalau begitu, sudah saya coba yang seperti itu, kamu tidak mengerti”. Eitss, tiba-tiba kamu merasa bersalah hihihihi.

Ok Ok, kok bisa seperti itu ya?

Hal ini tidak lah lain karena solusi tidak datang dari diri mereka sendiri yang membutuhkan, alias karena mereka tidak memiliki rasa kepemilikan atas saran tersebut. Hal tersebut akan berbeda jika kita membantu saran atau ide ide keluar dari dalam mereka sendiri. Sehingga ada keterlibatan, memunculkan rasa tanggung jawab dan kepemilikan atas ide/solusi yang mereka ucapkan sendiri.

Tanpa keterlibatan, komitmen sulit untuk dibangun

Nah, kalau begitu bagaimana agar ide atau saran-saran tadi datang dari si kawan kita yang curhat tadi?

Salah satu cara adalah dengan menggunakan pertanyaan. Hmmm…kok pertanyaan, ia kan butuhnya ide atau saran? iya pertanyaan.

Jadi begini…

Manusia pada dasarnya akan secara otomatis mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang di terimanya. Olehnya, dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang membangun, pertanyaan-pertanyaan yang berkualitas akan merangsang respons otak kawan kita untuk menemukan solusinya sendiri.

Pertanyaan berkualitas = jawaban berkualitas

Pertanyaan yang berkualitas akan menghasilkan jawaban yang berkualitas pula. Jawaban yang berkualitas menghasilkan pola pikir yang baik, yang pada akhirnya akan menghasilkan tindakan positif.

Akan tetapi, bukan sembarang pertanyaan melainkan pertanyaan yang memberdayakan. Nah, hal manarik dari “pertanyaan” adalah bisa membuat kita semakin tenggelam dengan permasalahan (stressfull) dan bisa juga membuat kita berdaya dan makin produktif.

Dibawah ini adalah contoh bagaimana pertanyaan yang berbeda akan memberi hasil yang berbeda pula.

Curhat 1

Elis      : Bro, dia membuat saya kecewa

Bio      : Kenapa bisa kecewa?

Elis      : Cewekku toh dia tidak peduli sama saya, masa dia lupakan hari ulang tahun ku.

Bio      : Kenapa bisa dia lupa?

Elis      : Penting pi pekerjaannya urus itu jualan daripada saya mungkin

Bio      : Pas dia ingat, dia sudah minta maafmi itu sama kamu, Elis?

Elis      : Sudahmi mi Bio

Bio      : Jadi, masih kecewa?

Elis      : Masih

Curhat 2

Elis      : Bro, dia membuat saya kecewa

Bio      : Apa yang terjadi?

Elis      : Cewekku toh dia tidak pedulimi sama saya, masa dia lupakan hari ulang tahun ku.

Bio      : Bagaimana persisnya ini kejadian dia buat kamu sedih Elis?

Elis      : Anu…saya bayangkan toh dia lebih pentingkan pekerjaannya daripada saya

Bio      : Itu berarti kamu bayangkan hal negatif. Dengan kejadian yang sama dia lupa ulang tahunmu, hal positif apa yang dapat kamu bayangkan?

Elis      : Hmmm….Mungkin dia mau kasih saya kejutan besok atau dia kerja keras supaya bisa traktir saya

Bio      : Bagaimana perasaan mu sekarang setelah tahu kalau ada kemungkinan lain yang buat dia lupa hari ulang tahunmu?

Elis      : Saya rasa lebih baik dan lebih mampu mengontrol emosi atas kenyataan ini Bio


Nah, contoh di atas merupakan segelintir contoh bagaimana pertanyaaan (bukan pernyataan) yang berbeda akan menghasilkan jawaban dan hasil yang sangat berbeda. Olehnya, menjadi penting untuk kita belajar dan berlatih untuk memberikan pertanyaan-pertanyaan yang membangun, agar kita sendiri ataupun juga kawan kita bercakap mendapat manfaat.

Ironisnya, sering dijumpai dalam hidup kita pertanyaan-pertanyaan bahkan juga pernyataan yang kurang membangun. Seperti:

“Wah gemukan yah” dan ini di tujukan oleh wanita

“Kenapa belum nikah?” hehehe

dsb ….

Dan kadang pertanyaan-pertanyaan yang kurang memberdayakan diri kita ajukan kepada diri kita sendiri.

Penutup

Setiap percakapan dalam diri akan menciptakan pikiran di dalam benak kita dan pikiran akan mempengaruhi apa yang kita rasakan dan dapat berakhir dengan Tindakan. Kontrol-lah percakapan dangan orang lain dan terhadap diri sendiri untuk memberikan response yang paling baik dalam kejadian apapun. Bertanyalah dengan pertanyaan yang memberdayakan dengan selalu menanyakan apa arti positif dibalik setiap hal yang terjadi.

Semoga bermanfaat untukmu dan untukku!

Referensi:

27 Coach Professional Indonesia. 2015. Sukses dengan Coaching. PLP Book.

Sharing is Caring

Andi Balladho

Andi Balladho Aspat Colle is certified Occupational Safety & Health (OSH) professional in Indonesia. As OSH Enthusiast, he loves to learn and share an articles about OSH.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *