Sikap Dasar Manusia: Pemenang vs Korban

Sikap dasar manusia ini menjadi penting sekali untuk dipahami saat kita ingin mencapai goals atau kemenangan (victor). Sikap dasar manusia terbagi 2 bagian, garis bawah dan garis atas.

Menurut Jimmy Susanto seorang founder ASEAN Coaching Alliance yang juga orang Indonesia pertama yang menulis buku bersama Brian Tracy, untuk mencapai goals maka terlebih dahulu seseorang perlu untuk membereskan persoalan sikap bagian bawah garis yang di sebut BEDS.

Sikap dasar manusia
Tangkapan layar materi Jimmy Susanto via zoom meeting

Apa itu itu BEDS dalam Sikap Dasar Manusia?

BEDS merupakan akronim dari Blame, Excuse, Denial, dan Shame. BEDS ini disandingkan dengan kata Victim, artinya jika Anda berfokus pada BEDS maka Anda hanya akan menjadi korban dari kegagalan-kegagalan dalam hidup. Mari kita bahas satu persatu:

Blame

Sikap dasar manusia blame
Photo by Alex Green on Pexels.com

Blame dalam Bahasa Indonesia artinya menyalahkan. Hampir semua orang suka diakui sebagai penyebab hal-hal yang “baik”. Tapi, cendrung untuk menyalahkan orang lain, situasi, keadaan dan lingkungan atas apa-apa hal buruk yang terjadi pada dirinya. Sebagai contoh, menyalahkan negara lain karena pandemi Covid-19, tidak akan menghilangkan Covid-19 di Indonesia atau menyelamatkan orang yang terinfeksi, kan?

Kerugian besar bagi seseorang yang menyalahkan segala sesuatu yaitu dia akan merasa benar, tidak perlu bertindak lagi dan tak mau belajar dari kegagalannya.

Nah, henti dan hilangkan blame sekarang juga yaa! Mulailah ambil alih kepemilikan dan tanggungjawab dalam hidup kita.

Excuse

Membaca buku
Gambar oleh Free-Photos dari Pixabay

Excuse berarti alasan. Bayangkan jika hidup Anda terlalu banyak alasan untuk melakukan sesuatu, baik itu untuk kemajuan kehidupan atau bisnis, maka yang terjadi adalah tidak ada perkembangan berarti. Misalnya, “saya sudah terlalu tua untuk belajar”, atau saya banyak menemui teman-teman yang ingin berhenti merokok tapi coba perhatikan apa yang mereka katakan, “saya ingin berhenti merokok, tapi saya sulit untuk berhenti karena merokok adalah sumber inspirasi”.

Dalam hal ini terdapat dua pilihan; pertama, apakah Anda lebih suka terus-terusan mencari dan membuat alasan atau kedua, menghilangkan kebiasaan ber-alasan dan mulai mengambil tindakan untuk melakukan hal-hal yang Anda tahu adalah apa yang sehat/bermanfaat bagi Anda?

Denial

Denial
Photo by Polina Zimmerman on Pexels.com

Secara terjemahan berarti penyangkalan. Bentuk ini memiliki makna yang lebih dalam dimana penyangkalan terhadap sesuatu yang ada di situasi dan kondisi dimana orang yang bersangkutan tetap menyangkal baik secara sadar maupun tidak sadar atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Betapapun besarnya penyangkalan yang dilakukan, tak akan mengubah situasi yang tengah dihadapi. Mari pelajari dan introspeksi diri untuk mengatasi penyangkalan ini.

Shame

Shame berarti malu. Dibuli: baper, diomongin dikit: malu, gak berani maju dan lain sebagainya. Contoh: seseorang yang sudah melakukan proses pelamaran, namun tiba-tiba karena 1 dan lain hal langkah kejenjang berikutnya menjadi batal. Dengan kejadian ini, rasa malu dengan skala yang tinggi bisa saja muncul dan berakhir dengan mengakhiri hidup. Rasa malu yang terlalu dalam dan malu menghadapi orang lain dimana memilih bunuh diri.

Shame
Photo by Eternal Happiness on Pexels.com

Hal ini bisa dihindari dengan berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu dan kemudian mengatasi serta penerimaan atas situasi kondisi yang dihadapi oleh dirinya.

Sepahit-pahit nya obat akan hilang juga setelah diminum. Begitupun, rasa malu dalam hidup akan hilang ketika kita berhasil menerimanya. Jadi belajarlah menerima kondisi.

Baca juga: Cara Meningkatkan produktivitas diri ala Stephen R. Covey


Nah, ibarat kesek tulang ikan, sakit di tenggorokan tak akan hilang sampai tulangnya dibuang/dihilangkan. Pun, dalam mencapai suatu tujuan. Untuk dapat mencapai tujuan hidup, kita perlu menghilangkan sikap BEDS terlebih dahulu dan berfokus digaris atas (ORA).

Apa itu ORA dalam Sikap Dasar Manusia?

ORA adalah akronim dari Ownership, Responsibility dan Accountability. Disandingakan dengan kata Victor, artinya jika Anda berfokus pada ORA maka Anda akan menjadi seorang pemenang. Berikut ini adalah penjabaran dari akronim tersebut yang saya ambil dari buku Goal Achivement System Karya Jimmy Susanto:

Ownership

Ownership atau kepemilikan adalah rasa memiliki dan keterlibatan dalam pekerjaan, organisasi, bisnis dan kehidupan yang dijalani.

Menariknya, Jimmy membagi ownership menjadi 2 suku kata: owner dan ship yang berarti sebagai pemilik kapal, dimana semua orang yang terlibat dalam satu kapal mulai dari nahkoda, penggerak layar kapal hingga pendayung kapal tersebut, semua berada di dalam kapal bekerja baik untuk kecepatan berlayar, keberhasilan mencapai tujuan atau malah sebaliknya, tenggelam dan karam bersama.

Ownership
Ownership seperti pemilik kapal yang mempunyai rasa memiliki terhadap kapalnya

Oleh sebab itu, rasa kepemilikan ini sangat penting ditumbuhkan di dalam diri sendiri, organisasi dan bisnis.

Responsibility

Berarti rasa bertanggung jawab dalam berbagai bidang terutama ketika berbicara tentang kehidupan diri sendiri, pekerjaan yang diemban dan tentunya peran yang sedang dijalankan.

Responsibility

Jimmy menjelaskan responsibility menjadi ability to response yang diartikan sebagai kemampuan untuk merespon. Ketika seseorang memiliki kemampuan untuk merespon terhadap apa yang terjadi dalam kehidupannya, yang tentu saja direspon dengan positif dan bertanggung jawab.

Accountability

Secara terjemahan berarti akuntabilitas. Dalam kehidupan baik professional, bisnis maupun pribadi, akuntabilitas sangat diperlukan untuk diimplementasikan.

Sama seperti responsibility, Jimmy menjelaskan Accountability sebagai ability to account yang mana seseorang diharapkan memiliki kemampuan untuk dapat dipertanggung jawabkan dan diandalkan dalam segala aspek kehidupan. Diperlukan oleh setiap orang untuk mempunyai kemampuan dari dirinya sendiri terlebih dahulu agar bisa bertanggung jawab atas dirinya kemudian baru bisa menerima tugas dan tanggungjawab dari hal lainnya, termasuk pencapaian goal yang diinginkan.

Penutup

Kehidupan tidak sesulit yang dipikir. Kenyataan tidak sepahit yang terbayang. Semua orang bisa saja berada di garis bawah “BEDS”, jika itu yang terjadi TENANG SAJA! kita hanya harus segera menyadari dan kemudian menaikkan tingkatan dari BEDS ke ORA. Bye bye BEDS, welcome ORA.

Semoga bermanfaat buatmu dan buatku!

Referensi:

Susanto, Jimmy. 2020. Goal Achivement System: Cara Mencapai Tujuan Hidup, Meningkatkan Kebahagiaan, Keuangan, Kesehatan dan Kesejahteraan Hidup. PLP Book.

Susanto, Jimmy. 2020. Zominar Material.

Sharing is Caring

Andi Balladho

Andi Balladho Aspat Colle is certified Occupational Safety & Health (OSH) professional in Indonesia. As OSH Enthusiast, he loves to learn and share an articles about OSH.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *